Pusing Terapkan Cara Menghitung Depresiasi Asset? Lakukan hal ini!

cara menghitung Depresiasi Asset

Pusing Terapkan Cara Menghitung Depresiasi Asset? Lakukan hal ini! Bagi Anda pekerja keuangan akan sangat familiar dengan perihal akuntansi. Apalagi tentang depresiasi asset yang seringkali terjadi. Apakah anda pernah mengalaminya? Buntu ide ketika harus mengutak-atik masalah ini?

Depresiasi atau penyusutan, biasanya mencerminkan nilai atau lokasi harga. Khususnya bagi harga perolehan asset seperti mesin, gedung maupun alat-alat. Tapi ada juga yang berbentuk sumber alam yang populer dengan sebutan deplesi.

Dalam harga perolehan aset atas benda berwujud dan tak berwujud pastilah memiliki istilah yang berbeda. Misalnya saja, amortisasi yang dipake untuk benda aset tak berwujud. Jika Anda mulai bingung, simak dulu penjelasan tentang cara menghitung Depresiasi asset secara tepat di bawah ini.

Yakin, Cara Menghitung Depresiasi Asset Anda Sudah Benar?

Ilmu hitung-menghitung selain pelajaran matematika akan sering Anda temui pada bab akuntansi. Dalam akuntansi bagian per bagian dihitung secara mendetail dan terperinci. Berikut 5 metode untuk menghitung depresiasi aset yang bisa Anda terapkan.

  • Reduce Charge Method

Langkah menghitung penyusutan asset ini didasarkan pada beban depresiasi tahun awal dengan besaran lebih tinggi ketimbang tahun selanjutnya. Selain  itu, terdapat sebuah pendapat apabila asset yang baru dinilai menghadirkan efisiensi daripada asset yang telah menua.

Dengan kata lain, penerapan biaya pemeliharaan serta perbaikannya aset baru lebih kecil daripada aset lama. Keunggulan metode ini ialah mampu menyeimbangkan antara jumlah depresiasi dan juga beban perbaikan

  • Straight Line Method

Cara menghitung depresiasi asset kedua ini terkenal dengan metode garis lurus. Umumnya cara ini adalah yang paling banyak dipakai karena simpel dan sederhana. Bahkan, cara ini cukup recomended untuk penghitungan pajak.

Pasalnya langkah ini menekankan pada kestabilan nilai depresiasi, sehingga akan Sama di setiap periodenya. Tak peduli banyak atau lamanya kegiatan dalam periode  tersebut. Ada baiknya langkah ini dipakai untuk penghitungan depresiasi seperti; alat-alat kantor, furniture maupun gedung.

  • Service Hours Method

Untuk penghitungan ketiga, dihitung berdasarkan pada penilaian jika asset berupa mesin akan lebih gampang rusak jika difungsikan secara penuh. Daripada yang dipakai hanya separuh waktu saja. Dalam metode ini beban depresiasi akan dihitung bergantung pada jam jasa yang digunakan.

  • Activity Method

Pada metode keempat merupakan  asumsi bahwasanya penyusutan ialah bagian dari fungsi dari produktivitas. Sehingga bukan dilihat dari segi waktu yang telah terlampaui. Oleh karena itu, metode aktivitas dinilai cukup mudah diukur. Namun, cara ini mempunyai kekurangan, karena dianggap kurang tepat. Apalagi jika digunakan pada situasi depresiasi yang bergantung waktu dan bukanlah aktivitas.

  • Metode Depresiasi Khusus

Mengapa metode kelima ini di sebut khusus? Sebab, perusahaan maupun pihak pemilik asset sudah tak mampu memilih metode lain yang telah di sebutkan  di atas. Dengan kata lain tak cocok dengan keempat metode sebelumnya. Selain itu, aktiva dinilai memiliki keunikan karakteristik yang tentunya memerlukan pengaplikasian yang khusus pula.

Metode penghitungan depresiasi khusus terbagi menjadi 2 jenis yaitu,

  1. Metode Kombinasi dan campuran yang diaplikasikan sesuai keinginan sang akuntan
  2. Metode gabungan serta kelompok, yang mana sering dimanfaatkan pada aktiva yang bersifat homogen. Termasuk memiliki fungsi yang mirip atau serupa.

Bagaimana menurut Anda, mudah kan, cara menghitung depresiasi asset ini? Manakah jenis metode yang ingin Anda terapkan. Mau yang manapun bisa disesuaikan dengan aneka kebutuhan Anda. Nah, semoga artikel ini bisa membantu ya!

Baca juga: Mudah dan Bermanfaat, Inilah Tips Pemulihan Keuangan Setelah Lebaran!

Tentang Penulis

Rowley